Selasa, 03 Desember 2013

Bersyukur ..

mungkin kisah ini terdengar biasa bagi kebanyakan orang. tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi memberikan inspirasi. membuat diri mengerti akan hakikar bersyukur.

siang itu matahari sangat ramah pada bumi, tak malu - malu lagi menampakkan diri. segerombolan anak sekolahan berseragam putih abu - abu, putih biru tua, bahkan sampai putih merapun terlihat bergerombol melewati trotoar yang tak begitu luas. aku bersama kawan - kawan satu "geng" ku juga berjalan bergerombolan. saat itu, kami semua masih SMA. masa - masa belia yang hanya mengerti kesenangan semata. 

rencananya siang itu kami mau nongkrong di es teller langganan kami. seperti biasa, pulang sekolah bermain sejenak keliling pasar, padahal kantong pas - pasan. lumayan buat cuci mata. itu prinsip kami dulu. setelah lelah keliling pasar. saya dan teman - teman lanjut ke caffe es teller langganan kami. disana bersenda gurau, curhat - curhatan tentang cinta, hal yang disukai, soal guru, semuanya kami bahas disitu. saling berebutan bicara, memang ego nya masa belia. 

sudah semakin sore. aku terburu - buru hendak pulang, takut angkot menuju rumah sudah tidak ada lagi. akhirnya kami semua pulang ke tempat masing - masing. aku berjalan sendiri menuju terminal, pikiran entah kemana. mungkin karena lelah seharian. lelah dengan kegiatan yang itu ke itu saja seharian. dalam hai ada sedikit rasa mengeluh, bosan belajar seharian. pikiran benar - benar lelah. akhirnya sampai juga di terminal, huuft.. benar - benar angkot yang panas. menambah rasa bosan, lagi - lagi harus menunggu sampai penuh. selalu begini setiap hari. apa yang bisa kulakukan, cuma melamun. mau membaca, sudah bosan seharian dengan buku.

tapi, tiba - tiba lamunanku buyar, pandanganku terarah pada anak kecil. berpakaian lusuh. kancing baju urutan ketiga dari atas sudah copot. kulihat resleting celananya pun sudah tak bagus lagi, baju yang sebenarnya kurang layak untuk dipakai. anak itu usianya sekitar 5 tahun. dengan semangat dia berjalan bersama ibunya menuju angkot yang ku tumpangi. dia pun naik ke angkot, dia terus saja dengan ekspresi wajah senang memegang majalah bobo "second" yang baru dia beli. dengan hati - hati dia memegang majalah itu, sangat takut majalah itu lecet. dia mulai membuka majalahnya dengan hati - hati, mulai membacanya. ibu hanya tersenyum manis melihat tingkah anaknya.

"ma, terimakasih dah belikan isan majalah ini ya ma, besok kalau mama ada uang belikan lagi ya ma, yang bekaspun tak apa - apa, isan hanya suka membaca ma"

"iya nak, nanti kalau mama ada uang lebih lagi, mama akan belikan, mama usahakan beli yang baru"

hatiku sedikit getir mendengar dialog ibu dan anak itu, kulihat penampilan ibu itu memang terlihat kurang mampu, sendal jepit yang dia pakai cukup membuatku mengerti akan keadaannya. tapi beliau masih mengusahakan yang diinginkan anaknya. aku tiba - tiba jadi rindu ibuku. bahkan aku tidak bisa mengingat dengan baik, pernahkah aku benar - benar tulus mengucapkan terimakasih dari hati atas semua yang diberikannya? pernahkah? tiba - tiba aku jadi merasa sangat malu, kemana saja aku selama ini? kenapa hidupku hanya bisa mengeluh, merasa bosan belajar, padahal orang tua ku selalu memfasilitasiku. aku jadi malu, tak terasa ada setetes air mata jatuh dari sudut mataku. mulai saat itu, aku bertekad akan menjadi lebih baik lagi, akan beusaha jadi anak yang berterimakasih pada orangtuanya.

itulah kisah sederhana yang ku alami sepulang sekolah. terlihat sederhana tapi sungguh membuatku semakin bersyukur atas rahmat Tuhan yang telah diberikan padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar